Menghayati Keheningan
Menghayati Keheningan
Kita tidak tahu apakah keheningan merupakan suatu hal yang penting bagi banyak orang di jaman ini. Sepertinya, menjadi hening atau tidak bukanlah persoalan yang dipikirkan oleh banyak orang. Siapa peduli dengan keheningan? Kalaupun ada yang memikirkan hal itu, tentu dia adalah orang yang berani menghadapi tantangan.
Keheningan pada dirinya adalah sebuah sarana untuk mencapai cara hidup yang lebih baik. Di dalamnya, kita tidak hanya dapat menemukan banyak tantangan, tetapi juga kekayaan yang jika dihayati sungguh-sungguh dapat berguna bagi kehidupan kongkret kita.
Dalam tulisan singkat ini kita akan melihat beberapa aspek dari keheningan diantaranya adalah tentang apa sajatantangan yang mungkin dihadapi ketika keheningan ditawarkan sebagai salah satu cara mengintegrasikan diri dalam kehidupan kongkret. Selain itu kita juga akan melihat beberapa “keuntungan” yang dapat diperoleh jika keheningan telah kita integrasikan dalam kehidupan kita.
Keheningan Vs Keliaran
Suasana hening pada umumnya memiliki dua “musuh liar” dalam diri setiap orang. Disebut demikian karena “musuh liar” tersebut tidak mudah begitu saja untuk dikendalikan. “Musuh liar” yang pertama adalah faktor-faktor suara yang berasal dari luar diri seseorang. Maksudnya, keheningan biasanya dikaitkan dengan faktor keramaian yang liar dari luar diri seseorang, entah itu karena disebabkan oleh suara-suara alat transportasi, komunikasi dan hiburan. Suara-suara pesawat, mobil danmotor adalah beberapa contoh keramaian yang diakibatkan oleh sarana transportasi itu. Suara-suara lain yang akhir-akhir ini juga akrab muncul dalam kehidupan sehari-hari adalah dering telepon dan short messege service (sms) yang datang dan pergi tanpa permisi. Sedangkan dari dunia hiburan muncullah suara-suara tv, mp3, dvd, radio dan lain sebagainya yang semakin menambah riuh redamnya berbagai macam suara dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sedangkan “musuh liar” yang kedua adalah musuh yang berasal dari diri seseorang. “Musuh liar” itu dapat muncul dalam diri seseorang entah itu melalui pikiran atau rasa perasaan. Seperti halnya ketika seseorang jatuh cinta dan memikirkan orang yang dicintai, demikianlah gambaran liar dari suatu pikiran itu. Rasanya sulit menghindari untuk tidak memikirkan seseorang yang sedang kita cintai. Bisa jadi semakin kita tolak untuk tidak memikirkan orang yang kita cintai justru semakin kuat kita memikirkanya. Hal yang sama kiranya juga dapat terjadi dengan rasa perasaan yang kita miliki. Seringkali kita asyik begulat dengan berbagai macam perasaan yang muncul karena peristiwa-peristiwa mengesan dalam hidup kita, entah itu peristiwa yang menggembirakan atau yang menyedihkan. Tidak jarang pula kita tenggelam dalam perasaan tertentu yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan untuk suasana hening, perasaan was-was atau cemas, misalnya. Musuh liar yang kedua ini sepertinya lebih sulit untuk ditaklukkan atau dihilangkan jika dibandingkan dengan suara-suara liar yang pertama. Dalam arti tertentu, musuh liar yang berasal dari luar diri seseorang dapatlah dikendalikan dengan cara menghindari, menyepi di tempat tertentu atau dengan sengaja mengkondisikan suasana hening. Tetapi lain halnya dengan “musuh liar” yang berasal dari dalam diri seseorang. Belum tentu suara-suara liar dari dalam itu serta-merta akan hilang dengan cara menghindari, menyepi atau mengkondisikanya.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apa yang dapat kita lakukan dengan “musuh-musuh liar” tersebut? Ketika merenungkan pertanyaan di atas lebih jauh, saya teringat dengan sebuah pepatah yang berbunyi; “tak kenal maka tak sayang”. Mungkin kita dapat belajar dari pepatah itu. Artinya, seliar apa pun “musuh” keheningan yang kita hadapi rasanya akan dapat diatasi jika kita mengenalinya. Dengan kata lain,jika kita memang benar-benar mengenal suara-suara “musuh liar” tersebut sebagai sesuatu yang akrab, tentunya kita tidak akan mengalami banyak gangguan. Melalui pengenalan itu, kita dapat mengetahui apa yang dapat kita lakukan. Dengan pengenalan kita dapat mengetahui kelemahan-kelemahan dan celah-celah di mana “musuh-musul liar” itu dapat ditaklukkan dan diterobos.
Keheningan itu menakutkan
Keheningan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka yang belum terbiasa menghadapinya. Sebab, dalam keheningan yang kita hadapi pertama-tama adalah diri kita sendiri.
Dalam keheningan, seseorang biasanya akan dibawa untuk mencapai kesadaran diri. Kesadaran itu sendiri membawa seseorang untuk merasakan bahwa ia benar-benar berada di sini dan di saat ini. Rutinitas keseharian hidup seseorang terkadang lebih banyak menyita kesadaran. Maka, tidak mengherankan jika terjadi bahwa seseorangterlena dan tidak sadar dengan dirinya, apa yang dikerjakan dan dihidupi. Tak jarang pula, seseorang merasa kaget ketika baru menyadari bahwa ia ada di sini saat ini dan sedang melakukan sesuatu.
Kesadaran diri pada saat yang sama dapat menghantar seseorang secara khusus untuk berjumpa dengan kejadian-kejadian di masa lalu. Jika seluruh kejadian di masa lalu itu adalah baik dan membahagiakan, bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan besar. Sayangnya, dalam kejadian-kejadian masa lalu itu juga tersimpan berbagai peristiwa atau kejadian-kejadian yang mungkin buruk, menyedihkan dan menyakitkan. Masalah-masalah seperti itu kadangkala justru dapat menjadi hal-hal yang menakutkan ketika seseorang untuk masuk dalam keheningan, sebab kejadian-kejadian tersebut dapat muncul setiap saat dengan tanpa diminta. Atau, melalui kesadaran bisa juga seseorang diantar untuk selalu ingat dengan tantangan hidup yang harus di hadapi yang mungkin cukup memberatkan. Dengan menjadi tidak hening, dalam arti tertentu dapat menjadi modal bagi seseorang untuk melupakan sejenak kesulitan atau tantangan yang harus dihadapi. Dalam peristiwa sepertiinilah, keheningan dapat dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan.
Bukanlah suatu yang salah, ketika seseorang merasa takut atau bahkan enggan masuk dalam keheningan. Sebab, untuk mencapai suasana hening seseorang membutuhkan banyak latihan dan kerja keras. Misalnya, ia perlu merasa kerasan dengan suasana dunia sekitar dan diri sendiri. Ia perlu kerasan dengan suara-suara bising yang muncul entah karena alat transportasi, komunikasi atau hiburan. Ia juga perlu kerasan dengan berbagai macam lanturan yang muncul entah itu melalui pikiran dan perasaan pribadi. Belum lagi ketika maksud untuk mencapai keheningan justru berubah menjadi kesepian yang mencekam atau justru keramain di luar diri seseorang seolah-olah justru semakin menjadi-jadi.
Untuk apa kita hening?
Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah untuk apa kita menghayati keheningan jika ternyata keheningan itu sendiri memiliki “musuh-musuh liar” dan menakutkan untuk dihayati? Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh keheningan?
Bagi para religius, dua pertanyaan di atas bukan hal-hal asing yang tidak bisa dijawab. Dalam konteks hidup rohani, keheningan biasanya dipahami sebagai sebuah sarana untuk mencapai pengalaman rohani tertentu, berjumpa dengan Allah secara personal misalnya. Keheningan semacam itu biasanya dipraktekkan ketika dalam situasi retret, rekoleksi atau dalam bentuk doa-doa tertentu. Keheningan kadangkala juga menjadi sarana untuk mengasah ketajaman batin. Melalui ketajaman batin itu, dengan mudah seseorang dapat mengenali apa yang dikehendaki Allah atas hidupnya.
Keheningan tentunya tidak hanya dibutuhkan dalam konteks kehidupan rohani saja, keheningan juga berguna dalam konteks kehidupan yang kongkret dan dialami sehari-hari. Salah satu hal yang mungkin dicapai melalui sarana keheningan adalah demi mencapai manajemen atau pengaturan diri. Artinya, jika suasana hening di miliki oleh seseorang maka akan mudah bagi orang tersebut untuk mengolah diri. Dengan berbekal keheningan, batin seseorang bisa menjadi jernih dan teratur sehingga tidak dikendalikan oleh pikiran atau perasaan yang membabibuta. Dalam hal studi misalnya, keheningan secara nyata menjadi sarana yang sungguh dibutuhkan. Dari pengalaman, saya merasa bahwa keheningan sungguh memberikan ruang yangcukup untuk berkonsentrasi dan menangkap lebih mudah apa yang sedang saya pelajari. Ruang itulah yang nantinya menjadi tempat untuk melekatkan ilmu atau materi yang saya pelajari.Saya tidak bisa membayangkan jika saja keheningan itu tidak pernah saya miliki, tentu tidak akan mudah bagi saya untuk maju dalam hal studi. Dari contoh singkat itu, saya meyakini bahwa pola yang sama tentunya akan dibutuhkan oleh setiap orang ketika mereka melakukan pekerjaan dan aktivitas mereka yang lain.
Ada juga yang mengatakan bahwa keheningan itu dapat disebut sebagai sumber dari segala keutamaan. Bagi saya, tidaklah terlalu berlebihan jika mengatakan demikian. Dengan bekal keheningan itu, kita sebenarnya dihadapkan pada kenyataan untuk dengan tekun mengolah “musuh-musuh keheningan” seperti yang telah kita sebutkan di atas dengan cara-cara yang kreatif. Dalam kebisingan suara-suara luar, keheningan mengajak kita untuk selalu dapat mawas diri dalam bertindak. Seringkali yang terjadi, dalam kekacauan suasana hidup keseharian, suasana-suasana ramai lebih sering mendominasi hidup kita, maka seringkali pula keputusan-keputusan tindakan kita diambil dalam suasana demikian itu yang sebenarnya tidak selalu tepat. Dalam ungkapan lain, kita sebenarnya selalu diajak untuk berkontemplasi dalam aksi.
Melalui keheningan, kita sebenarnya dengan rendah hati juga diajak untuk mengolah pikiran dan suasana batin kita. Kita diajak untuk masuk ke dalam relung pikiran dan batin kita yang paling dalam. Mungkin saja, pada kedalaman pikiran itu terdapat gagasan-gagasan cemerlang yang dapat kita ambil dan berguna bagi kehidupan kita. Atau mungkin pada kedalaman batin, kita dapat menemukan masalah-masalah batin yang perlu diselesaikan, masalah luka batin misalnya.
Sikap tekun dan rendah hati untuk mengolah “musuh-musuh” keheningan adalah sika-sikap yang mungkin lahir melalui penghayatan keheningan di samping keutamaan-keutamaan lain tidak dapat disebutkan seluruhnya di sini. Dalam arti seperti itulah saya berpendapat bahwa keheningan bisa menjadi sumber dari segala keutamaan.
Memaknai keheningan
Keheningan mungkin tidak lagi menjadi suatu hal yang dipikirkan atau disadari oleh banyak orang. Akan tetapi, bukan berarti bahwa keheningan tidak lagi memiliki makna yang penting dalam kehidupan kita. Sebaliknya, jika kita mau jujur, keheningan sebenarnya adalah sarana yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan ini. Hanya saja, karena ada banyak hal yang harus dikerjakan dalam penghayatan keheningan, orang lebih suka mengabaikan arti dan penghayatan keheningan itu. Terkesan juga bahwa keheningan itu dihindari karena memang memiliki banyak musuh-musuh liar di dalamnya, selain kesan menakutkan yang juga sering muncul.
Keheningan yang seringkali dianggap sebagai melulu urusan rohani juga tidaklah benar. Dalam kenyataan, keheningan justru sangat dibutuhkan dalam kegiatan kongkret sehari-hari. Tanpa adanya modal keheningan, mungkin akan terjadi “kekacauan” di mana-mana. Sulit dibayangkan bagaimana seseorang dapat fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan, entah itu mengatur atau mengolah diri, mengendalikan pikiran dan rasa perasaan, jika keheningan bukan menjadi suatu bagian integral dalam diri seseorang.
Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh keheningan adalah suasana keakraban. Keakraban itu sendiri terbentuk jika kita memang benar-benar mengenali macam-macam suara “musuh” yang berasal dari luar dan dalam diri kita. Jadi dengan demikian keheningan bukan lagi menjadi permasalah ketika kita berhadapan dengan berbagai macam bentuk suara yang mengganggu.
Untuk selanjutnya, barulah dikatakan bahwa keheningan itu adalah masalah batin, yaitu batin yang telah terbebas dan tidak lagi dipengaruhi oleh suara-suara dari luar entah itu oleh suara-suara kendaraan, alat komunikasi dan hiburan maupun oleh suara-suara lain yang berasal dari dalam diri berupa pikiran dan rasa perasaan.
Read more...