Kamis, 13 Agustus 2009

Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinda

Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinta

Dalam seminggu ini, aku banyak sekali melihat status atau tulisan note (catatan) dari sejumlah orang teman aku di facebook, yang isinya bertutur tentang adanya kegundahan hati yang membuat kebesaran makna arti cinta menjadi pudar atau seakan-akan ingin disangsikan.

Sepanjang rentang waktu perjalanan hidup kita, sulit rasanya untuk menghindari adanya masalah agar tidak menaungi diri kita. Alasannya, ketika masalah mulai memecah perhatian kita, rasa-rasanya tidak mudah bagi hati serta pikiran kita untuk segera mendamaikan diri dengan suasana tidak nyaman yang tercipta, yaitu pada saat masalah mulai merampas sebagian waktu dan energi kita.

Besarnya beban masalah yang sedang kita hadapi, disadari atau tidak, pada satu masa waktu, dapat pula mengganggu tumbuh kembangnya cinta kasih kita pada seseorang yang kita kasihi. Hal ini terjadi karena diri kita cenderung lebih fokus pada upaya memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, dibandingkan memberikan perhatian lebih atas cinta yang ada di hati terhadap pasangan atau kekasih hati kita.

Pada sisi yang lain, cinta sulit mengalir dengan indah, apabila masalah hadir sebagai “batu ujian” dalam hubungan cinta kasih dengan kekasih hati kita.

Cinta yang seharusnya membuat hati dan wajah kita tampak ceria serta berseri-seri sepanjang hari. Namun keadaan akan terasa berbeda, ketika cinta dapat dianggap sebagai perusak harmonisasi hidup, yaitu pada saat masalah mulai menaungi gairah diri untuk dapat mengekspresikan berbagai ungkapan kasih kepada pasangan atau kekasih hati tercinta.

Masalah yang menaungi hubungan sepasang anak manusia yang saling mengasihi, akan menghadirkan : rasa kesal, amarah, gelisah, sedih dan kecewa. Padahal, masalah tak akan pernah usai apabila kita sendiri tidak pernah mencoba untuk menyelesaikannya.

Sepandangan mata aku, pada status atau note (catatan) yang dituliskan oleh sejumlah teman, hal-hal yang menjadi masalah dalam hubungan cinta kasih yang sedang dibina dalam bentuk pacaran (atau bahkan, pasangan suami-isteri) adalah masalah kurangnya perhatian, masalah keuangan, dan masalah pengendalian sikap. Lalu masalah komunikasi (terutama sikap egois dari salah satu pihak) yang terhambat. Kemudian, ada pula yang memaparkan tentang adanya suatu prasangka yang berlebih-lebihan.

Ada yang tersirat, namun ada pula yang “sepertinya” terus terang diucapkan, yaitu sebagain ungkapan suasana hati yang sedang dirasakan.

Apabila ingin dijabarkan lebih lanjut, maka semua masalah yang teman-teman kemukakan melalui status atau note tersebut, pada akhirnya akan bermuara pada sebuah kalimat yang ingin bertanya : haruskah kondisi itu terjadi?

Teman-teman ku semua,

Jangan biarkan problema mengaburkan (bahkan mampu menghanyutkan) makna indah dari keagungan cinta yang ada didalam hati kita.

Kalau ada masalah, bicarakanlah. Sebuah titik temu (kesepakatan untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai) tak akan pernah tercipta apabila masing-masing pihak tidak memiliki keinginan untuk bertemu, saling memberikan pandangan dan mendengarkan pandangan yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, serta berbagai kemungkinan yang dapat dikompromikan dengan pasangan / kekasih hati kita.

Apabila ada kesalahan yang terjadi, segeralah minta maaf, jangan tunggu lama-lama. Sebuah kesalahan mungkin saja terjadi sebagai sebuah kealpaan. Namun, kesalahan juga bisa terjadi karena salah satu pihak lebih mementingkan diri sendiri dan seakan-akan melupakan atau lupa dengan keberadaan pasangannya. Kesalahan, dapat pula terjadi karena tidak sengaja melakukannya.

Kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut, dapat membebani pikiran dan menimbulkan kekacauan suasana hati. Kita dapat mengelimir kondisi tersebut apabila pihak yang berbuat salah, berani mengucapkan kata maaf, sedangkan pihak yang disakiti oleh adanya kesalahan yang dibuat oleh pasangan atau kekasih hatinya, dapat mengucapkan kata maaf dengan tulus.

Satu kesalahan kecil jangan pula dibesar-besarkan kalau kita tidak ingin masalah kecil itu justru membuat hati kita berkecamuk oleh karena telah tercipta suatu suasana yang penuh dengan ketidak-pastian, kemudian menjadi cerita kehidupan yang tidak ingin kita lalui atau hadapi.

Bicaralah baik-baik. Kita tidak selalu dapat menerka, kapan masalah datang. Jadi, sebuah komunikasi merupakan sebuah alur yang seharusnya intensif dilakukan, karena dengan mengembangkan suatu pola komunikasi yang baik, maka akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dan semakin baik lagi, akan cara pandang serta pola sikap pasangan / kekasih hati kita.

Sebisa mungkin, jangan biarkan diri kita ini mudah untuk mengucapkan kata-kata kecaman…! Sebuah kecaman akan bisa menimbulkan perasaan ditolak atau dipersalahkan, bukan mengayomi, menghibur atau mendukung.

Keberadaan kekasih hati dapat dimanfaatkan sebagai tempat curahan hati atau berbagi rasa sayang, bukan sebagai majikan atau atasan kita di kantor. Oleh sebab itu, ungkapkan segala sesuatunya dengan baik-baik, tanpa harus mengecam.

Pada situasi atau kondisi tertentu, kesalahan memang sangat mungkin saja terjadi. Tapi itu bukan berarti, kita dapat dengan bebas menyatakan bahwa kesempurnaan itu ada pada diri kita. Jangan egois dehhh…

Yup, sikap egois adalah musuh terbesar dari hubungan cinta kasih yang sedang dibina. Ketika sikap egois mengemuka, maka diri ini hanya ingin menguasai, bukan menerima adanya kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita.

Dalam menjalin ikatan cinta kasih, adanya sifat saling melengkapi kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita, merupakan sebuah kondisi yang seharusnya kita ciptakan TANPA HARUS DIMINTA. Ini bukanlah sebuah kondisi yang dapat ditawar-tawar, namun sebuah kondisi yang sepatutnya kita bangun sejujurnya, setulusnya, dan sebaik-baiknya, dengan kekasih hati kita.

Percaya deh, apabila kita biarkan sikap egois selalu hadir untuk menciptakan suasana seperti yang kita inginkan, maka pada sisi yang lain (yaitu sisi diri kekasih hati kita), api cinta itu dapat perlahan-lahan padam. Hanya menghitung waktu saja, sepertinya.

Siapa sih, yang ingin dikekang dengan hanya diijinkan mengatakan kata “ya” tanpa pernah ada kesempatan untuk mengatakan “tidak” sebagai sikap tidak setuju? Nobody.

Mengkritisi, boleh, mengekang, jangan. Memberi anjuran, ya, boleh sekali. Tapi aktif melarang-larang, sebaiknya jangan. Bila kita coba untuk mengekang dan aktif mengucapkan kata larangan, itu sama artinya kita semakin membangun tembok rasa tidak nyaman pada diri kekasih hati kita.

Kita tidak punya hak untuk mengekang atau melarang. Hak yang dapat kita nyatakan atau apresiasikan kepada pasangan kita adalah menjadikan dirinya tampil lebih baik dan lebih merasakan hakekat hadirnya cinta di hati kita dan juga dirinya. Pada kedua hal itu, kita benar-benar memiliki hak untuk melakukannya.

Apabila memiliki rasa tidak puas, buatlah diri pasangan kekasih hati kita untuk memahami dengan cara-cara yang sederhana, bahwa kita tidak puas dengan sikapnya. Jangan pernah menjadi “buas” karena ada rasa tidak puas pada sikap atau dalam diri pasangan kita.

Well, cinta mungkin juga bermasalah. Apabila itu terjadi, kita tidak memiliki pilihan yang lain, selain merundingkan jalan terbaik atas kondisi itu, agar tidak ada upaya untuk menyakiti, tentunya, dengan mengatasnamakan cinta. Berhenti sejenak… pikirkan masak-masak… dan nyatakan dengan bijak.

Emosi tak akan pernah berhasil menyelesaikan masalah. Demikian pula pada saat cinta sedang ada masalah, emosi bukanlah pilihan tepat untuk mendamaikan suasana hati.

Ingatlah selalu, bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan pada saat ada masalah menaungi cinta. Dalam kelebihan yang kita miliki, pasti kita memiliki kekurangan. Oleh karena cinta, kekurangan itu dapat tertutupi dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kekasih hati kita. Gunakan itu untuk tampil lebih baik, bukan untuk menekan lebih keras.

Memang, segala sesuatunya itu, ada saatnya. Namun, ketika cinta adalah dasarnya, kita bisa menjadi bintang ditengah gelapnya malam, apabila kita biarkan cinta itu menjadi “malaikat” yang menyejukkan setiap kasih yang melingkupi diri dan hati kita.

So, jangan biarkan masalah menyandung adanya cinta didalam hati dan diri kita. Lakukan segala sesuatunya dengan didasari oleh cinta.

Read more...

Mencari Jati Diri dan Tujuan Hidup

Mencari Jati Diri dan Tujuan Hidup

Sepanjang hidup, ada cara-cara yang lebih mudah dan lebih sulit untuk memperoleh hasil-hasil yang kita pilih. Tujuan hidup itu tidak ada perbedaan. Konsep-konsep berikut ini merupakan sparepart yang disediakan dalam perjalanan untuk membuat perjalanan lebih lancar. Alat-alat inibekerja dengan kreatifitas dan insuisi kita dan akan lebih jauh membantu kita berjalan lebih sesuai (sejalan) dengan karakter tujuan hidup kita. Pakailah konsep itu selama dan ketika kita merasakan seakan-akan – ini bukan sebuah program untuk diikuti, cara-cara sederhana yang membantu kita mengatur (menyesuaikan) jalan kita dan meneruskan kita sebuah rangkaian pelajaran yang penuh Tujuan hidup.

Percaya Diri
Percaya diri merupakan sebuah alat yang cepat dan mudah untuk menggunakan kecerdasa intuisi atau kreatif kita. Kita dapat menggunakannya dalam sejumlah cara-cara yang berbeda.

Kejelasan
Berbicaralah dengan kejelasan. Ungkapkan diri kita dengan penuh Tujuan hidup. Kejelasan memelihara kepercayaan diri dan merupakan pember kemungkinan yang sangat besar.

Proporsional
Kurangi setiap sesuatu sampai pada dasar intisarinya. Selanjutnya kita selalu dapat menguraikannya. Mengetahui intisari sesuatu membantu kita menyatukan sesuatu itu dengan Tujuan hidup kita.

Intuisi Kreatif
Segala sesuatu adalah mungkin melalui pikiran kreatif kita. Kreatifitas dan intuisi “tahu”. Pikiran logis kemudian mulai mamahmi. Menjalani Tujuan hidup kita artinya pertama dikendarai oleh pikiran intitif/kreatif dan kedua memahaminya dalam kebiasaan lurus (mengalir lurus).

Kesederhanaan
Jika kita dapat mengatakan sesuatu secara sederhana barankali kita memahaminya, jika tidak dapat, barangkali kita tidak paham. Katakan apa yang kita maksudkan dan artikan apa yang kita katakan. Tujuan hidup kita adalah bagian yang paling jujur dari diri kita.
Bagi saya, kesedarhanaan mempunyai sebuah kebersihan mengenainya, sebuah kemurnian.

Kerjasama
Apapun Tujuan hidup yang kita pilih untuk diri kita sendiri kita perlu orang lain untuk menjalankannya. Kerjasama yang besar dilahirkan (diciptakan) dari sebuah rasa hormat yang mendasar kepada pendangan-pandangan dan kemampuan-kemampuan orang lain.

Read more...

KASIH YANG MENGUBAHKAN (1 Kor 13:4-7; Yoh 3:,16 ; 1 Kor 13:13)

KASIH YANG MENGUBAHKAN (1 Kor 13:4-7; Yoh 3:,16 ; 1 Kor 13:13)

Syalom saudara, malam hari ini kembali kita membahas tentang “kasih” bahasa yang sudah biasa di ucapkan dan di perdengarkan, tetapi hanya orang-orang luar biasalah yang bisa melakukannya.Sebelumkita lebih jauh lagi, mari kita lihat apa sebenarnya arti dari kasih ? dalam kamus indonesia KBBI arti ka•sih = perasaan sayang (cinta, suka, cinta kasih, belas kasihan).
Dan sekarang kita lihat apa arti kasih dalam Alkitab kita? 1 Korintus 13:4 -7 mengatakan, Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Dalam konteks ini kasih digambarkan sebagai suatu kegiatan dan kelakuan, bukan sekedar suatu perasaan batin atau motivasi.
Dan kita memiliki Tuhan Allah yang memiliki kasih yang begitu besar pada kita, mari kita baca (Yohanes 3:16). Ayat ini mengungkapkan isi hati dan tujuan Allah yang begitu mulia, kata kasih yang di gunakan dalam ayat ini dalam bahasa Inggris adalah so loved yang artinya begitu mencintai. Dan hanya orang yang mempunyai cinta yg begitu besarlah yang mampu memberikan anaknya yg tunggal demi keselamatan orang lain. Dan kita tahu bahwa Allah Bapa memberikan AnakNya yang tunggal untuk menebus manusia dari dosa. Disini kita bisa melihat bahwa :
1. Kasih Allah mampu menjangkau semua orang “didunia ini” Dia menghendaki agar semua orang di selamatkan (1Tim2:4).
2. Dengan mengaruniakan anakNya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus sebagai penghapus dosa di kayu salib menunjukkan bahwa Allah sangat mengasihi manusia, sehingga Dia menjadikan Yesus sebagai pendamaian antara manusia dan Allah. melalui Yesus manusia tidak lagi membutuhkan perantara untuk bisa datang pada Allah, melalui Yesus tidak lagi ada perbedaan dan melalui Yesus juga iblis sudah di kalahkan. Semua ini menunjukkan kasih Allah yang begitu luar biasa pada manusia.
3. Dan tentunya kasih Allah akan di rasakan oleh setiap orang yang percaya pada Kristus. Kata percaya dalam bahasa Yunani adalah pisteo yang mengandung 3 unsur utama yaitu :
a. Keyakinan yang kokoh bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat umat manusia.
b. Memiliki persekutuan yang taat kepada Kristus
c. Memiliki kepercayaan penuh kepada Kristus.
Peribahasa berkata “saudara bisa memberi tanpa kasih tapi saudara tidak bisa mengasihi tanpa memberi”. Sebab kalau orang mengasihi, dia memberi dan memiliki hati yang suka memberi. Karena dia mengasihi.
Kalau orang itu mencintai, mengasihi, dia pasti memberi. Memberi waktu, memberi tenaga, memberi perhatian atau mengorbankan diri sekalipun. Tuhan memberi contoh yang bisa kita teladani. Allah Bapa memberi anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus ini menunjukkan kasih yang begitu dalam dan tulus, mana pernah ada seorang ayah atau ibu rela memberikan anaknya untuk di siksa demi orang lain, tapi Tuhan Allah merelakan Anaknya utuk melewati penderitaan kayu salib hanya demi manusia. Kasih yang di miliki Allah Bapa bukan kasih jikalau tapi kasih walaupun maksudnya di sini adalah kasih Allah adalah kasih yg tidak meminta balasan. 1 Korintus 13:13 mengatakan Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Disini kita bisa melihat bahwa kasih itu memiliki tempat yg pertama dan lebih besar dari segalanya, mungkin saudara sekalian tau islustrasi tentang kasih yang paling sering di perdengarkan yaitu ada 3 orang pria mendatangi rumah satu keluarga yang pertama bernama kekayaan, kedua kesuksesan dan yang terakhir bernama Kasih. Mereka menawarkan pada keluarga ini untuk memilih salah satu dari mereka untuk tinggal di rumahnya, setelah melakukan perundingan yg begitu panjang akhirnya Wanita atau si ibupun ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa di antara Anda yang bernama Kasih? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. Si Kasih bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. tapi ternyata, kedua pria lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih, maka, kemana pun Kasih pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di mana ada Kasih, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Kasih yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini. Saudaraku kekayaan dan kesuksesan ini ternyata buta, dan ironisnya kita lebih memilih mengikuti yang buta dari pada yang melihat. Saudaraku kita boleh kaya, kita boleh sukses tapi kalau kita tidak punya kasih maka semua akan sia-sia. Karena hanya bila kita memiliki kasihlah kita bisa membagikan apa yang kita miliki pada orang lain. Saudaraku hal ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah kasih, karena kasih dua hati bisa di persatukan, karena kasih orang sakit bisa di sembuhkan, karena kasih hati yang sekeras batu sekalipun bisa menjadi lunak. Dan karena kasih Tuhan Yesus mati di kayu salib.
Kita juga bisa belajar bagaimana mengasihi dengan tulus dari seorang tokoh dunia yaitu Mother Teresa. Dimana dia rela mengorbankan semua waktu dan tenaganya hanya untuk merawat orang-orang yang tidak diperdulikan oleh orang lain. Dia tidak pernah perduli apakah penyakit itu bisa menularinya, dia tidak perduli sekalipun orang-orang menentangnya, bahkan mother Teresa rela memangku seorang ibu yang sudah tidak berdaya dan tergeletak di onggokan sampah dan berdiri berjam-jam di depan pintu satu rumah sakit hanya untuk mengetuk hati para medis untuk merawat ibu tersebut. Saudaraku disini kita bisa belajar bagaimana mengasihi dengan tulus. Dan mother Teresa pernah berkata. Pada saat aku merawat luka-luka dari orang-orang yang terbuang ini, aku merasa bahwa aku sedang merawat luka-luka Tuhan Yesus. Dan kita tahu firman Tuhan dalam (Matius 25) juga mengajarkan kita untuk melakukan hal serupa.
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Saudaraku ayat ini mengajarkan kita bahwa untuk bisa mengasihi orang lain kita harus tau siapa yang kita layani dan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa apa yang kita lakukan pada orang yang hina itu adalah melayaniNya. Sauradaku Kasih karunia Allah begitu nyata dalam kehidupan kita sehingga "Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk meyelamatkanya oleh Dia." (Yoh.3:16-18) Allah mengasihi kita bukan karena kepandaian, kebaikan, tetapi karena Kristus sungguh-sungguh mengasihi kita apa adanya. Itulah sebabnya Ia telah mati bagi kita justru ketika kita masih berdosa. Dengan demikian Yesus sendiri telah memberi teladan kepada kita "tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh.15:13). Saudaraku mari kita mengasihi bukan dengan jikalau tetapi walaupun sehingga kita tidak perlu lagi mempertanyakan apakah orang ini layak untuk dikasihi atau tidak?
Saudara sebelum saya mengakhiri khotbah saya hari ini, saya ingin mengajak saudara sekalian untuk melihat cuplikan ini. “Pemutaran film Passion of Christ”
Saudaraku Tuhan sudah memberikan kasihnya yang begitu besar bagi kita, sekarang bagaimana dengan kita? Apakah kita mau menjadi kasih itu?
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

Read more...

Belajar Mencintai dengan Tulus

Belajar Mencintai dengan Tulus



Pengucapan kata-kata penuh mesra, adalah bagian dari ekspresi cinta kasih seseorang kepada kekasih hatinya, terutama pada saat perasaan cinta sedang menggebu-gebu bersemi di hati.

Sebagai bentuk ekspresi
dan apresiasi cinta, terkadang pernyataan itu disampaikan dalam dua
bentuk kalimat dengan esensi yang hampir sama, seperti dua bentuk
pernyataan dibawah ini :

Kalimat pertama mengatakan : "Aku mencintai kamu karena aku membutuhkanmu..."

Sedangkan bentuk kalimat yang kedua mengungkapkan : "Aku membutuhkanmu karena aku cinta padamu..."

Sepertinya
ada kemiripan dalam mengungkapkan kedua kalimat tersebut. Akan tetapi,
apabila diperhatikan secara cermat, kedua kalimat tersebut mempunyai
perbedaan mendasar, terutama pada sisi pengertian atau makna yang
terkandung di dalamnya.

Perbedaan terletak pada apakah ada nilai ketulusan dari orang yang mengucapkannya.

Dalam
menjalani hubungan berpacaran dengan orang yang kita cintai, memang
sudah selayaknya kita melakukannya dengan penuh ketulusan. Tidaklah
baik kiranya apabila dalam menjalani masa berpacaran, salah satu pihak
selalu memperhitungkan atau mempertimbangkan atau menimbang-nimbang
segala sesuatunya.

Ketika ada indikasi sikap tersebut tetap
dipertahankan, maka sikap tersebut pada suatu waktu nanti akan dapat
menjadi kerikil tajam sumber perpecahan atau pertengkaran, yang
akhirnya bisa menjadi penyebab putusnya hubungan cinta kasih dengan
pacar.

Ketulusan itu tidak menuntut...

Ketulusan itu, tidak mengharapkan adanya sikap balas budi... karena dalam perbuatan tulus, ada pengorbanan…

Oleh
karena perbuatan sebuah tindakan yang didasarkan pada ketulusan hati,
seseorang akan dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain karena
perbuatan yang dilandasi ketulusan tersebut, telah membuka pintu
harapan (bahkan mungkin pula pintu kehidupan) kepada orang lain yang
menerima perbuatan tulus tersebut.

Terkait dengan sebuah hubungan cinta kasih,

Pada saat kita telah menerima atau telah menyatakan pernyataan cinta kepada seseorang yang kita kasihi, itu sama artinya kita telah siap untuk membagi hati serta sebagian waktu kita dalam mengisi hari-hari kita bersama pacar.

Adanya
penerimaan diri untuk membuka hati dalam menerima atau menyatakan rasa
cinta kepada seseorang, seharusnya diikuti pula oleh adanya keterbukaan
pola pikiran kita, karena sikap open minded kita, kelak akan sangat
mempengaruhi serta menentukan pada cara pandang atau pada cara kita
memandang kepribadian maupun kehidupan pacar dari kita.

Kenapa begitu? Karena salah satu hakekat mengasihi orang lain dengan penuh ketulusan itu, adalah mencerna terlebih dahulu baru berpendapat atau bertindak.

Berbuatlah
karena hati kita yakin bahwa perbuatan kita itu adalah sebuah perbuatan
benar. Janganlah kita membangun opini pribadi yang ingin menghadirkan
suatu pola pandangan sebagai sebuah pembenaran.

Ini merupakan suatu keadaan atau pemikiran ideal apabila kita memang benar-benar tulus mencintai serta menyayangi pacar kita.

Cara
menentukan sikap yang didasarkan pada cara memandang kepribadian serta
kehidupan pacar kita, akan turut menentukan atau mempengaruhi penilaian
kita terhadap pacar kita, yang kelak dapat berujung pada hadirnya sikap
tulus untuk mau menerima keberadaan dan kondisi pacar, atau bahkan pada
saat kita akan mengapresiasikan rasa sayang kita pada pacar kita.

Hal
itu perlu kita lakukan agar kita tidak melihat kekurangan yang ada pada
pacar kita sebagai sesuatu yang bisa merusak hubungan cinta kasih
dengan pacar, namun menghadirkan sikap diri untuk mau membantu
memperbaiki atau menutupi kekurangannya itu.

Sikap ini merupakan
tanda penerimaan kita, untuk mau mengenal serta perduli atas apa yang
ada dalam diri kekasih hati kita, sehingga apabila pada suatu waktu
kita menerima informasi yang kurang menyenangkan tentang pacar kita,
itu tidak akan membuat kita langsung terpengaruh atau terbakar emosi.

Sisi
kekurangan dalam diri seseorang, adalah sisi rentan yang dapat
dijadikan alasan bagi seseorang untuk berubah sikap setia (melakukan
perselingkuhan) atau memutuskan hubungan pacaran dengan kekasih hatinya.

Apabila
dalam menjalin hubungan kasih dengan kekasih hatinya tidak ada
kesungguhan hati dari dalam diri seseorang untuk tulus mencintai serta
dengan sepenuh hati menyayangi kekasih hatinya itu, maka besar
kemungkinan, orang tersebut sulit untuk dapat menjaga kesetiaannya
kepada sang pacar.

Dalam menjalin hubungan dengan orang lain,
kita tidak boleh bersikap egois. Kita tidak boleh banyak menuntut,
memaksakan diri kita dan menganggap diri kita adalah yang terbaik atau
sebagai pribadi yang tidak memiliki kesalahan. Kita seharusnya sadar,
bahwa kita juga bukanlah individu yang sempurna.

Jadi, ketika
ingin membuat sebuah keputusan untuk memutuskan hubungan tali kasih
dengan pacar, selama kesalahan atau kekurangan dalam diri pacar memang
benar-benar tidak dapat diperbaiki, maka sebaiknya kita tidak
menyederhanakan sebuah masalah dengan memvonis hubungan kasih dengan
kekasih hati kita itu dengan kata putus...

Kelanjutan kisah
percintaan pada sepasangan anak manusia yang sedang berpacaran, dapat
menghadapi suatu kendala pada saat salah satu dari pasangan tersebut
masih mempertahankan sikap ego diri, terutama ketika sikap ego tersebut
ditunjukkan secara berlebih-lebihan.

Egoisme sikap, pada
dasarnya dapat menghalangi tumbuhnya sikap tulus di dalam diri
seseorang karena sikap egois membuat seseorang cenderung hanya
memperhatikan atau mementingkan kepentingan diri sendirinya, dan
seakan-akan lupa untuk berbuat baik kepada orang lain.

Adanya
egoisme, dapat membuat seseorang menjadi selalu memperhitungkan setiap
perbuatan yang dilakukannya kepada orang lain. Hal tersebut justru
membuat kita sulit untuk berbuat tulus pada orang lain.

Untuk
apa kita mempertahankan sikap egoisme kita, kalau sikap egois tersebut
justru membuat kita menghadapi dilema dalam membina hubungan harmonis
dengan pacar karena pacar kita telah kecewa terhadap sikap kita itu?

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Untuk
apa kita lebih mementingkan diri (tidak memiliki respon baik pada
lingkungan sekitar) kita sendiri, kalau sikap egois tersebut justru
membuat pacar menjadi tidak senang sama kita? Hubungan dengan pacar
dapat merenggang, bahkan bisa membuat putus hubungan pacaran.

Apabila
kita memang sudah memutuskan untuk bersedia berbagi kasih dengan orang
lain, maka kita juga harus bisa menyatakan sikap tulus kita pada
pasangan kita (dalam arti positif, tentunya).

Cinta memang indah
seperti yang pernah kita dengar, seperti yang kita lihat, seperti yang
tertuliskan, dan seperti yang dibicarakan setiap orang.

Oleh karena itu, cinta yang tumbuh dan bersemi dalam hati, patut untuk diperjuangkan, dengan mempertaruhkan segala yang ada, termasuk dengan menempatkan ketulusan hati nurani pada saat menjalankannya.

Dengan
bersikap tulus, berarti kita telah memberi makna indah akan adanya
sikap menghargai orang lain, serta menghargai hubungan yang telah kita
bangun dengan kekasih hati kita.

Ketulusan sikap, bukan hanya
membuat orang lain senang, namun juga bisa membahagiakan diri
sendiri.Oleh karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang bisa mendorong
kita untuk dapat mencintai orang lain dengan tulus.

Bersikap
tulus memang seharusnya dijadikan budaya dalam kehidupan setiap orang
karena dengan bersikap tulus, itu sama artinya telah menyatakan
perbuatan kasih kepada orang lain.

… hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

Read more...

Menghayati Hidup Kita Di Dunia Ini

Menghayati Hidup Kita Di Dunia Ini


Brad Pitt dan Angelina Jolie adalah artis-artis papan atas Amerika. Hidup mereka berkecukupan. Namun kepedulian terhadap sesama tetap mereka prioritaskan. Keduanya adalah pasangan suami istri yang harmonis.

Baru-baru ini keduanya mengungkapkan kepedulian itu dengan menyumbang dua juta dollar AS untuk pembangunan klinik bagi anak-anak di Etiopia. Klinik ini akan mengutamakan perawatan bagi anak-anak yang menderita tuberkulosis dan HIV/AIDS.

Pasangan dengan enam anak ini memilih Etiopia karena salah satu anak adopsi mereka, Zahara (3), berasal dari negeri ini. Sebelumnya, Jolie-Pitt mengadopsi dua anak lelaki, Maddox dan Pax. Sedangkan anak biologis mereka adalah Shiloh serta si bayi kembar Isla Marcheline dan Amelie Jane.

”Kami berharap ketika Zahara dewasa, dia mau mengambil alih tanggung jawab operasional klinik ini dan meneruskan misinya,” kata Jolie-Pitt dalam pernyataan bersama.

Sebelumnya, Jolie-Pitt melakukan hal yang sama di Kamboja, negeri asal Maddox (7). Mereka menyumbang pendirian klinik untuk melayani warga miskin yang sakit dan memerlukan perawatan. Kata Jolie dan Pitt, ”Kami ingin membawa sukses pelayanan kesehatan bagi warga miskin di Kamboja itu ke Etiopia.”

Menurut Jolie, banyak warga miskin dunia yang meninggal lantaran mereka tak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

Kepedulian terhadap sesama mesti selalu ditampakkan dalam karya yang nyata. Jolie dan Pitt tentu punya pengalaman kasih yang begitu mendalam terhadap sesama. Pengalaman kasih itu telah mendorong mereka untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki bagi sesama yang menderita. Ternyata penderitaan sesama itu menggerakkan hati mereka untuk memiliki kepedulian terhadap sesama.

Di sekitar kita terdapat begitu banyak sesama yang mengalami penderitaan. Mereka membutuhkan uluran tangan kita yang rela memberi sesuatu bagi kelangsungan hidup mereka. Pengalaman kasih dari Tuhan yang kita peroleh menjadi suatu dasar gerakan untuk berani melakukan hal-hal yang baik bagi sesama. Namun pengalaman kasih ini mesti sungguh-sungguh dihayati dalam hidup sehari-hari.

Orang yang memiliki kepedulain terhadap sesama itu mendasarkan pemberiannya pada kasih Tuhan atas dirinya. Kasih Tuhan itu mengalir bagi sesama. Dengan demikian, kasih yang ditampakkan bagi orang lain itu bukan sekedar kasih dari dirinya sendiri. Tetapi lebih-lebih hal itu merupakan kasih dari Tuhan sendiri.

Karena itu, sebagai orang beriman, panggilan kita adalah mengungkapkan dan menghayati kasih itu dalam hidup sehari-hari. Setiap perbuatan baik yang kita lakukan itu demi sesama yang membutuhkan. Tuhan sudah begitu banyak berbuat baik untuk kita. Untuk itu, kita juga ingin berbuat baik bagi sesama.

Orang beriman itu mendasarkan perbuatan baiknya pada pengalaman akan kasih Tuhan yang terjadi dalam dirinya. Mari kita berusaha untuk senantiasa menghayati iman kita dalam dunia yang nyata.

Ada tulisan dalam sebuah batu nisan yang berbunyi,”Life teaches us how to die; Death teaches us how to live”. (Kehidupan mengajarkan kita bagaimana caranya mati; kematian mengajarkan kita bagaimana caranya hidup). Suatu pernyataan yang menunjukkan adanya hubungan yang saling mengikat antara kehidupan dan kematian. Hubungan dua arah yang saling mempengaruhi. Menarik bukan!

Johannes 12:24-25
Karena pada umumnya, kita mempunyai konsep ttg kehidupan dan kematian hanya satu arah saja: yakni dari hidup menuju kematian. Kita semua hidup di dunia dan sedang menuju kepada kematian. Ada seorang filsuf yang bernama Martin Heidegger dari hasil pengamatannya ttg kehidupan manusia. Ia menyimpulkan dan memberi ciri pada kehidupan manusia sebagai “Zein Zum Tode” – “Ada menuju kematian”. Heidegger berani mengatakan bahwa manusia sudah ditakdirkan untuk mati begitu ia lahir di dunia. Manusia ada untuk hidup menuju kematian.

Tidak mengherankan jikalau kematian bagi kebanyakan orang merupakan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan sebagai pengaruh dari pemahaman Heidegger tadi. Kematian dianggap sebagai musuh paling besar yang harus dihindari. Oleh karena kematian itu dimengerti sebagai akhir dari segala sesuatu. Kalau sudah mati yang sudah tamat. Habis..tidak ada yang dapat kita lakukan lagi. Kita bisa mengerti mengapa manusia sama sekali tidak suka berpikir atau berbicara mengenai kematian. Kematian menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.

Meskipun kita menyadari bahwa kita semua akan mati dan setiap hari pun kita menghadapi realita bahwa ada orang-orang yang mati di seluruh dunia ini oleh pelbagai macam sebab, namun segala sesuatu di sekeliling kita mendorong kita untuk terus berjalan “seolah-olah tidak ada apa pun yang baru terjadi. Dan keadaan ini membuat kita tidak pernah menyadari bahwa diri kita pun sebagai mahkluk yang akan mati.
Ada banyak usaha untuk menghindari kematian dari budaya kita. Kita mencoba menutupinya dengan sesuatu yang palsu atau basa-basi. Kita bahkan tak dapat membayangkan bagaimana kematian dapat mendatangkan kebaikan. Kematian adalah suatu hal yang pasti akan dihadapi dan dialami setiap orang, tetapi kita memperlakukan seolah-olah kematian ini bukan sesuatu yang nyata. Begitu juga dalam hubungan dengan sesama, kadang kala kita lebih menyukai kebohongan yang menyatakan bahwa kita dapat hidup selamanya. Kita lupa bahwa perjumpaan kita di dunia ini relatif singkat, sehingga mungkin anda atau saya tidak akan ada lagi di sini, besok, minggu depan atau tahun depan.

Kematian itu adalah bagian dari kehidupan kita di dunia ini. Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi kehidupan dan kematian? Perikop kita mengungkapkan pemahaman yang diajarkan Tuhan Yesus kepada para pendengar & pengikut-Nya. Ternyata konsep Tuhan Yesus berbeda dengan konsep dunia ini. Kalau konsep dunia: dari hidup – mati; tetapi konsep Tuhan Yesus : hidup – mati – hidup lagi. Suatu konsep yang sulit dimengerti dan diterima oleh akal sehat manusia. Mati – tapi hidup lagi!! Berdasarkan logika sulit untuk dipercaya...mana mungkin!!
Dalam Yohanes 11, dikisahkan bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus. Bagi Tuhan Yesus, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Justru melalui kematian dapat dihasilkan buah-buah kehidupan. Untuk menjelaskan hal ini, Tuhan Yesus memakai contoh sehari-hari yang merupakan kebenaran alamiah ttg biji gandum. Dikatakan dalam Yohanes 12 ayat 24, “jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Agar biji gandum itu dapat bertumbuh dan berbuah maka ia harus ditanam dan mati terlebih dahulu.

Sebenarnya melalui penjelasan ini, Tuhan Yesus sedang mengungkapkan rahasia kehidupan yang dijalani-Nya di dunia ini. Seperti biji gandum, hidup Tuhan Yesus harus mati dulu untuk menghasilkan buah-buah keselamatan yang berlimpah. Untuk itu, Tuhan Yesus mengosongkan dan merendahkan diri-Nya menjadi sama dengan manusia, dan dalam ketaatan-Nya pada Bapa, Ia rela berkorban mati di salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Ia telah memberi segala-Nya termasuk nyawa-Nya sendiri bagi kita manusia yang dikasihi. Suatu pengorbanan total! Melalui kematian-Nya, Tuhan Yesus dimuliakan. Namun makna kematian Tuhan Yesus bukan sekedar menebus dosa dan menyelamatkan manusia melainkan memberi kehidupan yang kekal bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Kita lihat bagaimana Tuhan Yesus telah memberi contoh dan teladan dalam hal menyangkal diri demi keselamatan umat manusia dan dunia ini. Bagi Tuhan Yesus , ajaran yang paling pokok dari kekristenan adalah penyangkalan diri. Syarat utama menjadi murid Kristus adalah menyangkal diri, kita harus bersedia untuk menyalibkan dan mematikan “keakuan” dan “pementingan diri sendiri” agar hidup kita menghasilkan buah yang berlipat ganda. Kita harus membuang dan mengubur semua kehidupan lama kita, setelah itu baru bisa mulai yang baru. Ketika hidup kita sudah dibebaskan dan tidak lagi bergantung pada kekayaan & harta, pengetahuan & kepandaian, melainkan menyerahkan diri dan hidup kita sepenuhnya pada pemeliharaan dan pimpinan Allah.
Jika tidak demikian maka hidup kita seperti biji gandum yang tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, tetap hanya satu biji saja, hidup kita tidak akan bertumbuh & berbuah kalau hanya terus berfokus pada diri kita sendiri. (kekuatan gerak ke dalam). Tetapi kalau kita mau menyangkal diri dan hidup kita mengalami kasih dan anugerah Tuhan maka seluruh kehidupan kita diarahkan oleh kekuatan gerak keluar, menjadi berkat bagi banyak orang.

Hal menyalibkan dan mematikan keakuan dan pementingan diri sendiri (menyangkal diri) bukanlah suatu yang mudah. Karena kita harus berjuang mengalahkan diri sendiri. Ada begitu banyak orang yang sukses dan besar di dunia ini karena berhasil mengalahkan lawan-lawan tangguhnya tetapi kemudian jatuh karena gagal menundukkan dirinya sendiri; gagal mengalahkan egonya.

Nah oleh sebab itu, dalam Yohanes 12 ayat 25, Tuhan Yesus untuk lebih menjelaskan dan menekankan hal ini, memakai contoh lain dari kehidupan riil manusia dengan berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya” Tuhan Yesus tahu ada banyak orang yang mencintai nyawanya, mencintai hidupnya sedemikian rupa, sehingga ia bersedia untuk berbuat apa saja, mengorbankan apa saja, menghalalkan segala cara, pokoknya asal hidup. Moral tidak penting lagi, prinsip tidak penting lagi. Suara hati nurani juga tidak penting. Yang penting: bagaimana memuaskan diri sendiri dan hidup enak. Tapi ironisnya, kita malah kehilangan makna hidup yang sesungguhnya.
Kalau kita menghayati hidup ini adalah anugerah Allah maka hidup kita ini terasa amat berharga. Karena sangat berharga maka kita wajib menjaga dan memeliharanya. Tetapi seperti yang Tuhan Yesus ingatkan, hidup di dunia ini cuma sementara dan hanya satu kali. Jangan karena kita begitu menyayangi hidup kita yang sekali dan sementara ini, lalu kita mengorbankan segala-galanya.

Di dunia ini, kita hidup cuma sekali dan mati juga Cuma sekali. Karena itu, hidup dan matilah dengan terhormat. Jangan asal hidup, asal enak, asal senang kita menjual keyakinan kita, prinsip kita dan hati nurani kita. Itu berarti menjual harga diri kita sendiri. Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita punya pengharapan bahwa masih ada hidup yang lain lagi yaitu hidup yang kekal, hal ini dimungkinkan karena Ia telah bangkit dari kematian dan hidup yang abadi. Inilah hidup yang sesungguhnya. “Untuk apa kita memperoleh segala sesuatu di dalam hidup yang sementara ini, tetapi kita kehilangan hidup yang kekal?”

Saya tertarik membaca berita ttg Katharine Gun, wanita yang bekerja sebagai penerjemah di Markas Besar Komunikasi Pemerintah Inggris. Ia menjadi terkenal karena membocorkan rahasia intelijen Inggris. Sebelum melakukannya, Ia bergumul keras, kalau tidak dibocorkan ia begitu peduli akan nyawa warga sipil Irak dan tentara Inggris dalam perang. Tetapi kalau ia membocorkan ia tahu risiko apa yang harus ia pikul. Ia dapat di hukum penjara karena membocorkan rahasia negera. Belum lagi teror atau ancaman dibunuh yang ia akan terima. Ia menjadi resah dengan keadaan ini namun suaminya terus mendukungnya dan mengingatkan, “ do nothing and die, or fight and die.” (Tidak melakukan apa-apa dan mati atau berjuang dan mati).

Oh sangat berbeda maknanya! Akhirnya, Katharine memilih untuk berjuang dgn membocorkan berita itu apapun risikonya. Dengan tindakannya itu, Katharine berhasil menyangkal diri dan berani mengambil risiko untuk keselamatan orang lain. Ia telah mengisi dan memberi makna hidupnya untuk berkorban demi kepentingan orang banyak. Itulah juga yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia telah menyangkal diri-Nya, meninggalkan Tahta Kemuliaan-Nya di Surga datang ke dalam dunia untuk berkorban rela mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Suatu pengorbanan yang tidak ternilai!

Saya selalu ingat pesan yang diberikan oleh warga jemaat yang kena stroke kepada setiap orang yang mengunjunginya, Life is short use it well – hidup ini begitu singkat mari kita jalankan dengan sebaik-baiknya dengan jalan memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Read more...

About This Blog